Cara Mentahnik Bayi yang Di Sunnahkan Dalam Islam

Cara Mentahnik Bayi

Cara Mentahnik Bayi – Bagi kita umat Islam, kelahiran bayi harus disambut dengan cara yang Islami. Selain mendengarkan adzan dan iqamah, kita juga disunahkan untuk mengamalkan tahnik bayi kita yang baru lahir.

Apa itu Tahnik ?

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa tahnik adalah memasukkan sesuatu seperti kurma yang sudah dikunyah ke dalam mulut khususnya ke langit langit agar masuk dan di telan oleh bayi. Tujuannya agar anak terbiasa untuk memakan makanan yang berkah dan baik.

Cara mentahnik anak bayi adalah dengan membuka mulut anak agar (sesuatu yang dikunyah) bisa masuk ke perut.

Lebih dianjurkan untuk menggunakan kurma yang kering (tamr) tapi jika tidak ada maka diperbolehkan menggunakan kurma basah (ruthab). Bila tidak ada juga kurma maka madu bisa menjadi salah satu alternatif lainnya.

Cara Mentahnik Bayi
image credit : utusan.com.my

Menurut para ulama, tahnik ini merupakan sunnah berdasarkan beberapa hadits Nabi Muhammad SAW :

Dari Aisyah binti Abi Bakar ia berkata, “Ada bayi laki-laki yang dibawa kepada Nabi saw. Lalu beliau mentahniknya. Kemudian bayi itu kencing di pangkuan Nabi dan beliau memercikkan air di atas kencing tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian ada hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata, “Aku pernah dikaruniai anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi saw, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebiji kurma (tamr).” (HR. Bukhari)

Sebagai amalan sunnah, tahnik harus memiliki beberapa keutamaan. Dalam kitab Fath al-Bari bahwa tahnik dapat melatih dan menguatkan seorang anak untuk bisa makan.

Selain itu, tahnik dilakukan agar yang pertama masuk ke rahim bayi adalah yang paling manis, karena Rasulullah SAW tahnik bayi dengan kurma.

Dilansir dari muslim.or.id Syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, antara Ibadah dan Manfaat Kesehatan

Ibadah dan mentauhidkan Allah Ta’ala merupakan tujuan penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman,

وَما خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).

Di atas pondasi inilah, seluruh ajaran dan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpangkal, yaitu untuk mentauhidkan Allah Ta’ala dan menjauhkan umatnya dari kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul untuk tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ’Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut’” (QS. An-Nahl [16]: 36).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *